Apakah AS Mengalami Trauma Kolektif? Memahami Dampak Psikologis dari Krisis yang Terus Menerus

0
11

Amerika Serikat sedang menghadapi serangkaian peristiwa yang meresahkan—mulai dari penahanan massal dan pembunuhan yang dilakukan oleh ICE hingga meningkatnya ketegangan geopolitik—yang menyebabkan banyak orang mempertanyakan apakah negara ini berada dalam kondisi trauma kolektif. Ini bukan sekedar perasaan; ini adalah respons psikologis yang terukur terhadap siklus berita negatif dan ketidakstabilan global yang tiada henti.

Ilmu Pengetahuan di Balik Trauma yang Berlebihan

Tubuh kita tidak bisa membedakan antara trauma langsung dan menyaksikannya melalui media. Saat dihadapkan pada peristiwa yang menyusahkan, sistem lawan-atau-lari aktif, membanjiri tubuh dengan kortisol dan adrenalin. Respons fisiologis ini dirancang untuk bertahan hidup dalam waktu singkat, namun ketika dipicu berulang kali oleh berita 24/7 dan algoritme media sosial, sistem saraf akan terus-menerus berada dalam kewaspadaan berlebihan.

Amigdala otak, yang bertanggung jawab untuk mendeteksi ancaman, menjadi terlalu aktif, memindai bahaya bahkan ketika keamanan terjamin. Seperti yang dijelaskan oleh terapis Saba Lurie, “Otak kita tidak benar-benar membedakan antara sesuatu yang terjadi pada kita secara langsung dan sesuatu yang kita lihat terjadi pada orang lain.” Hasilnya adalah aktivasi yang berkepanjangan tanpa resolusi—sebuah siklus berbahaya di mana tubuh tetap waspada meskipun tidak ada ancaman nyata.

Bagaimana Trauma Terwujud: Dampak Fisik dan Emosional

Dampak dari paparan terus-menerus ini bisa sangat parah. Individu mungkin mengalami kelelahan kronis, sakit kepala, ketegangan otot, dan masalah pencernaan, bahkan tanpa aktivitas fisik. Kesehatan mental juga terganggu, dengan meningkatnya rasa mudah marah, perubahan suasana hati yang tiba-tiba, dan kesulitan fokus. Seiring waktu, hal ini dapat meningkat menjadi kecemasan, depresi, gejala stres pasca trauma (mimpi buruk, mati rasa emosional), dan hilangnya kepercayaan pada dunia.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan krisis yang berulang-ulang mengikis ilusi stabilitas, memaksa orang mempertanyakan tujuan dan keselamatan mereka. Fokus media pada hal-hal negatif, yang diperkuat oleh gambaran yang menarik dan bahasa yang mendesak, hanya memperburuk siklus ini.

Mengambil Kendali: Strategi untuk Mempertahankan Diri

Meskipun peristiwa global berada di luar kendali individu, upaya untuk mengendalikan responsnya adalah hal yang mungkin dilakukan. Saat kewalahan, teknik grounding dapat membantu:

  • Pemindaian Tubuh: Fokus pada sensasi fisik dari ujung kepala hingga ujung kaki.
  • Pernapasan Dalam: Tarik napas selama empat hitungan, tahan selama empat hitungan, dan buang napas selama enam hitungan.
  • 5-4-3-2-1 Teknik: Identifikasi lima hal yang Anda lihat, empat hal yang Anda sentuh, tiga hal yang Anda dengar, dua hal yang Anda cium, dan satu hal yang Anda rasakan.

Aktivitas fisik seperti berjalan kaki juga dapat menurunkan kadar kortisol dan mengaktifkan endorfin. Bersandar pada dukungan sosial—berhubungan dengan teman atau keluarga tepercaya—dapat menenangkan sistem saraf.

Terakhir, menetapkan batasan konsumsi berita sangatlah penting. Membatasi paparan pada waktu dan sumber tertentu akan meningkatkan kejernihan mental sekaligus menjaga kesadaran. Lurie menekankan, “Pada saat ini, kita ditugaskan untuk menemukan keseimbangan antara keterlibatan dalam kepedulian dan pemeliharaan diri.”

Kesimpulan: Amerika Serikat menghadapi tantangan unik di mana krisis yang terus-menerus mengancam kesejahteraan kolektif. Memahami mekanisme biologis dan psikologis yang berperan sangat penting untuk mengembangkan strategi penanggulangan yang sehat. Dengan memprioritaskan perawatan diri, menetapkan batasan, dan mencari dukungan, individu dapat menavigasi era yang penuh gejolak ini sambil menjaga kesehatan mental dan fisik mereka.