Selama beberapa generasi, banyak juru masak di seluruh dunia yang membilas ayam mentah sebelum menyiapkannya. Praktik ini, yang umum dilakukan di negara-negara seperti India, berasal dari keinginan untuk menghilangkan kotoran, bekas darah, atau sekadar menghilangkan rasa “mentah” yang dirasakan. Namun, otoritas keamanan pangan modern, termasuk FDA, USDA, dan CDC di Amerika Serikat, sangat menyarankan untuk tidak mencuci ayam. Tapi kenapa? Jawabannya terletak pada ilmu pengetahuan tentang penyebaran bakteri, dan perdebatannya lebih bernuansa daripada sekadar “melakukan atau tidak”.
Masalah Inti: Kontaminasi Bakteri
Perhatian utamanya bukan pada pembersihan ayam itu sendiri, namun pada apa yang terjadi di sekitar ayam ketika dicuci. Unggas mentah sering kali membawa patogen seperti Salmonella. Saat Anda membilasnya, bakteri ini tidak hilang begitu saja; mereka terciprat ke wastafel, meja dapur, peralatan makan, dan bahkan pakaian Anda. Sebuah studi tahun 2003 oleh Campden BRI menunjukkan bahwa mencuci daging secara dramatis meningkatkan perpindahan bakteri ke permukaan dapur, dan bakteri bertahan hingga 48 jam. Hal ini secara efektif meningkatkan risiko penyakit bawaan makanan, bukan menguranginya.
CDC memperkirakan bahwa penyakit bawaan makanan membuat satu dari enam orang Amerika sakit setiap tahunnya, mengakibatkan 128.000 orang dirawat di rumah sakit dan 3.000 kematian. Salmonella, kontaminan umum pada ayam mentah, menyebabkan lebih dari satu juta penyakit setiap tahunnya.
Mengapa Praktek Ini Tetap Ada
Meski sudah diperingatkan, banyak orang terus mencuci ayam. Kebiasaan budaya memainkan peranan penting; di wilayah yang pengolahan makanannya kurang terstandarisasi, pencucian dapat menghilangkan kotoran yang terlihat, yang umum terjadi pada unggas yang baru disembelih. Beberapa juru masak juga percaya bahwa mencuci dapat menghilangkan rasa “mentah” yang tidak menyenangkan, sebuah sentimen yang dianut oleh banyak orang di negara-negara di mana praktik ini tersebar luas.
Nuansa: Apakah Nasihatnya Terlalu Luas?
Meskipun risiko penyebaran bakteri tidak dapat disangkal, beberapa orang mempertanyakan apakah nasihat “jangan mencuci” itu terlalu sederhana. Intensitas penyebaran bakteri sangat bergantung pada cara ayam dicuci. Mencuci dengan air mengalir bertekanan tinggi jauh lebih berbahaya daripada membilas secara perlahan di dalam baskom. Desain wastafel Anda – kedalamannya, tinggi keran, dan laju aliran air – juga memengaruhi tingkat kontaminasi.
Terlebih lagi, sebagian besar dapur rumah bukanlah lingkungan yang steril. Ayam mentah sering kali dibuka bungkusnya di atas bak cuci yang sudah berisi sisa makanan dan genangan air, yang berarti kontaminasi akan tetap terjadi. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah risiko tambahan dari mencuci ayam jauh lebih tinggi dibandingkan risiko dasar yang ada di dapur pada umumnya?
Praktik Terbaik, Lebih dari Sekadar Pencucian
Pendekatan yang paling efektif bukanlah dengan menghindari mencuci sama sekali, namun dengan memprioritaskan kebersihan dapur secara keseluruhan. Ini termasuk:
- Sering mencuci tangan: Sebelum, selama, dan setelah menangani daging mentah.
- Talenan khusus: Gunakan papan terpisah untuk daging mentah dan hasil bumi.
- Pembersihan menyeluruh: Sanitasi permukaan dan peralatan setelah kontak dengan unggas mentah.
Jika Anda memilih untuk mencuci ayam, lakukan dengan hati-hati. Hindari air mengalir, tahan cipratan apa pun, dan segera bersihkan setelahnya.
Kesimpulan
Ilmu pengetahuan jelas menunjukkan bahwa mencuci ayam mentah dapat menyebarkan bakteri berbahaya. Meskipun risikonya bervariasi tergantung pada teknik dan kondisi dapur, pendekatan paling aman adalah dengan tidak mencuci dan fokus menjaga kebersihan secara keseluruhan. Pada akhirnya, mencegah penyakit bawaan makanan memerlukan lebih dari satu aturan; hal ini menuntut pemahaman komprehensif tentang praktik penanganan makanan yang aman.

































