Dinamika mertua seringkali rumit. Entah itu karena kedatangan cucu, kedekatan geografis, atau sekadar berlalunya waktu, hubungan dengan keluarga pasangan Anda bisa berubah secara tidak terduga. Terapis mengidentifikasi tanda-tanda peringatan tertentu yang menunjukkan ketegangan di masa depan, dan menawarkan saran tentang cara mengatasinya sebelum ketegangan meningkat.
Pelanggaran Batas: Masalah yang Berulang
Salah satu keluhan paling umum yang didengar terapis adalah keluhan mertua yang berulang kali melintasi batasan. Hal ini dapat berkisar dari kunjungan mendadak hingga pengambilan keputusan penting yang berlebihan. Inkonsistensi adalah kuncinya: jika pasangan mengizinkan ibunya mampir tanpa peringatan sambil menerapkan batasan ketat dengan teman-temannya, hal ini menandakan adanya masalah yang lebih dalam.
Pasangan harus menyelaraskan batasan dan menegakkannya secara konsisten. Mengizinkan satu pasangan untuk mengatur percakapan ini akan menciptakan triangulasi dan kebencian. Orang yang keluarganya terlibat harus mengambil peran komunikasi awal, namun menetapkan batasan sebagai tindakan yang tidak bersifat menghukum sangatlah penting. Batas hanya mendefinisikan batas, bukan serangan.
Ketika Pasangan Anda Mengutamakan Keluarga Dibanding Kemitraan
Tanda bahaya lainnya muncul ketika pasangan kesulitan memisahkan kebutuhannya dari kebutuhan orang tuanya. Hal ini sering kali diwujudkan dengan memprioritaskan persetujuan orang tua di atas kesehatan hubungan mereka. Mengatasi hal ini membutuhkan empati: pasangan Anda memiliki riwayat keluarga seumur hidup.
Daripada menuduh (“Ibumu sombong”), fokuslah pada perasaan Anda (“Aku merasa tidak nyaman saat ibumu mempertanyakan pola asuh kita…”). Komunikasi terbuka sangat penting. Terapis menekankan bahwa menunda percakapan hanya akan memperburuk masalah. Nyatakan keinginan Anda untuk memiliki hubungan yang kuat dengan mertua, meskipun pada awalnya sulit.
Ilusi Perdamaian: Menghindari Konflik Sama Sekali
Paradoksnya, tidak adanya konflik juga bisa menjadi tanda peringatan. Keluarga yang sepenuhnya menghindari perselisihan sering kali menyimpan ketegangan yang membara. Hal ini menciptakan lingkungan yang berjalan di atas kulit telur, di mana perkelahian terasa tak terelakkan.
Pola ini sering kali berasal dari pola asuh yang menghindari konflik. Perhatikan cara perselisihan ditangani dalam sistem keluarga mereka. Jika masalah disembunyikan, perkirakan dinamika yang sama akan terjadi pada mertua. Terapis setuju bahwa percakapan yang tidak nyaman sering kali diperlukan untuk mencegah kerusakan jangka panjang.
Mengatasi Perasaan Negatif
Bahkan setelah komunikasi, perasaan negatif terhadap mertua adalah hal yang wajar. Penting untuk diingat bahwa ini bukanlah tanda ketidakbaikan. Renungkan emosi Anda melalui jurnal atau berbicara dengan teman atau terapis tepercaya. Susun ulang pembicaraan negatif pada diri sendiri: “Saya bisa mencintai sekaligus melindungi batasan saya.”
Pengaturan mandiri juga penting: berjalan-jalan sebelum pertemuan, berdiskusi setelahnya, atau menetapkan batas waktu kunjungan. Anda tidak dapat mengendalikan perilaku mereka, tetapi Anda dapat mengatur keterpaparan dan reaksi Anda.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional
Jika pasangan kesulitan untuk menyelaraskan isu-isu ini, konseling bisa sangat berharga. Anak dewasa terjebak di antara dua keluarga, ditarik ke arah yang berlawanan. Mencari bantuan sebelum konflik meningkat merupakan tindakan proaktif, bukan upaya terakhir.
Pada akhirnya, menjalani hubungan mertua menuntut batasan yang jelas, komunikasi terbuka, dan kemauan untuk menghadapi kebenaran yang tidak menyenangkan. Mengabaikan masalah ini hanya akan memperburuknya seiring berjalannya waktu.


































