Memahami ‘Otrovert’: Pandangan Baru pada Tipe Kepribadian

0
15

Perdebatan lama antara introversi dan ekstroversi mempunyai pesaing baru: “otrovert.” Diciptakan oleh Dr. Rami Kaminski, istilah ini menggambarkan individu yang secara lahiriah tampak ekstrovert tetapi secara internal berfungsi dengan sistem saraf introvert. Meskipun penilaian kepribadian seperti Myers-Briggs telah mempopulerkan dikotomi introvert/ekstrovert, konsep otrovert menyoroti realitas yang lebih bernuansa.

Apa Definisi Otrovert?

Tidak seperti introvert klasik yang mengisi ulang tenaga melalui kesendirian, atau ekstrovert yang berkembang dalam lingkungan sosial, otrovert menunjukkan perpaduan. Mereka dapat dengan nyaman menavigasi situasi sosial, bahkan menjadi pusat perhatian, namun masih memerlukan waktu istirahat yang lama untuk mendapatkan kembali energinya. Seperti yang dijelaskan oleh terapis trauma Amelia Kelley, “Seorang otrovert mungkin tampak ekstrovert…tetapi sebenarnya memiliki sistem saraf yang lebih introvert.” Artinya, mereka dapat melakukan aktivitas sosial meski memerlukan periode isolasi yang lama untuk kembali ke kondisi semula.

Istilah itu sendiri—berasal dari kata Spanyol yang berarti “orang lain”—mencerminkan perasaan menjadi orang luar yang dialami banyak orang otrovert. Mereka sering kali memiliki kesadaran sosial yang tinggi namun kesulitan untuk merasa benar-benar dilihat atau dipahami dalam dinamika kelompok. Seperti yang dikatakan oleh terapis Cheryl Groskopf, “Mereka mungkin menginginkan hubungan yang dalam dan tulus, namun juga merasa selalu tidak terlihat, disalahpahami, atau diabaikan dalam kelompok sosial.”

Perbedaan Otrovert dengan Introvert dan Ekstrovert

Perbedaan utamanya terletak pada bagaimana perasaan individu ini dalam lingkungan sosial. Meskipun orang introvert mungkin menghindari keramaian, orang otrovert mungkin ikut serta tetapi merasa tidak terikat secara emosional atau tidak terikat. Ini bukanlah perilaku antisosial; sebaliknya, hal ini disebabkan oleh sistem saraf yang tidak sepenuhnya menganggap lingkungan aman atau saling berinteraksi.

Sebaliknya, orang ekstrovert biasanya memperoleh energi murni dari interaksi eksternal. Namun, orang Otrovert mungkin meniru perilaku ekstrovert karena kondisi sosial atau adaptasi yang dipelajari. Hal ini dapat menciptakan lingkaran umpan balik di mana pujian terhadap sifat-sifat ekstrovert memperkuat perilaku tersebut, sementara kebutuhan mendasar dari introvert tetap tidak terpenuhi.

Yang Perlu Diingat Otrovert

Terapis menekankan bahwa memiliki momen introvert adalah hal yang normal. Mengandalkan validasi eksternal saja bisa merugikan. Memprioritaskan kebutuhan internal—terutama selama masa stres atau perubahan hormonal—sangatlah penting. Merasa seperti orang luar bukan berarti ada sesuatu yang salah; hal ini sering kali mencerminkan kemampuan yang berkembang dengan baik untuk mengamati dan beradaptasi, terkadang sebagai mekanisme bertahan hidup. Tujuannya bukan untuk menjadi lebih bersosialisasi tetapi untuk menemukan ruang di mana keaslian tidak ditutupi.

Yang Harus Dipahami Orang Tersayang

Mereka yang peduli terhadap kaum otrovert harus menahan keinginan untuk “memperbaiki” atau mendorong mereka ke dalam kegiatan sosial. Konsistensi, keingintahuan yang tulus, dan kehadiran emosional jauh lebih efektif. Biarkan mereka mengambil ruang sesuai keinginan mereka dan mendengarkan tanpa terburu-buru merespons. Kebutuhan mereka berfluktuasi; terkadang mereka akan mengikuti acara sosial, di lain waktu mereka akan mundur sepenuhnya. Menghargai fleksibilitas ini sangatlah penting.

Kesimpulannya, konsep otrovert menyoroti kompleksitas kepribadian manusia. Hal ini menggarisbawahi bahwa tingkat energi, perilaku sosial, dan pengalaman emosional tidak selalu selaras ke dalam kategori biner. Mengenali nuansa ini dapat menumbuhkan kesadaran diri yang lebih besar dan hubungan yang lebih mendukung.